VISI MURID IMPIAN: SMK BISA HEBAT

Jurnal Refleksi Dwi mingguan Modul 1.3  ini akan saya coba uraikan dengan menerapkan model DEAL (Description, Examination and Articulation of Learning) yang dikembangkan oleh Ash dan Clayton (2009).



Description 

Pada modul 1.3 ini saya mempelajari tentang bagaimana membuat gambaran tentang murid impian. Pembelajaran ini dimulai dengan sebuah refleksi pada alur mulai dari diri. Disini kita diminta untuk menggambarkan bagaimana murid impian kita di masa depan kurun waktu 5 atau 10 tahun ke depan. Pada modul 1.3 ini saya mencoba untuk berangan-angan dengan memimpikan murid saya agar menjadi murid yang kompeten baik secara teori maupun praktek, dapat bersaing dengan yang lain dan mempunyai karakter profil pelajar pavasila dan budaya kerja. Dari gambaran murid impian itu dapat dirumuskan visi mudra impian yaitu “Terwujudnya Murid yang Kompeten, Berdaya Saing dan Mempunyai Karakter Profil Pelajar Pancasila”. 

Pada tahap eksplorasi konsep ada hal menarik yang saya dapatkan yaitu saat kita diminta untuk berlatih membuat pertanyaan BAGJA ( Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan rencana, Atur Eksekusi) berdasarkan pengalaman kita di  sekolah. Saat itu saya mengangkat sebuah prakarsa perubahan “Terwujudnya Murid yang Kompeten, Berdaya Saing dan Mempunyai Karakter Profil Pelajar Pancasila”.

Saya sangat senang saat membuat Alur BAGJA ini karena tergambar jelas bagaimana perjuangan saya untuk mewujudkan visi saya sebagai guru Penggerak. Ruang kolaborasi adalah salah satu alur yang paling saya tunggu-tunggu karena saya dapat bertatap muka dengan kawan-kawan CGP yang lainnya dan tentunya mendapat motivasi dari  Ibu Dewi Mulyani, S.Pd sebagai fasilitator dan penguatan dari Bapak Farid Susanto, S.Pd. sebagai Pengajar Praktik. Pada sesi diskusi kelompok saya memaparkan Visi yang saya buat, saya juga menjelaskan mengapa visi ini saya anggap penting dan apa alasan saya membuat Visi tersebut. Pada visi tersebut saya berusaha menjelaskan gambaran bahwa setiap anak yang terlahir ke dunia ini memiliki kelebihan dibalik segala kekurangan yang tampak oleh mata dan tugas kita sebagai guru adalah menuntun segala potensi yang ada pada anak agar potensi yang dimiliki anak benar-benar muncul dengan baik. Sesuai dengan visi yang sudah dirumuskan . Ada nilai-nilai kebajikan yang termuat dalam visi yaitu mewujudkan profil pelajar Pancasila dan budaya kerja. Pastinya untuk mewujudkan visi tersebut diperlukan prakarsa perubahan dan dirancang suatu tindakan perubahan dengan menggunakan  model inkuiri apresiatif (IA) dengan tahapan BAGJA

Berdasarkan diskusi dengan teman-teman dan masukan dari Ibu Dewi, akhirnya saya bisa memahami cara membuat prakarsa perubahan dengan bantuan kanvas BAGJA. Pada tugas demostekstual, saya membuat sebuah prakarsa perubahan yang akan saya terapkan di kelas yaitu “Terwujudnya Murid yang Kompeten, Berdaya Saing dan Mempunyai Karakter Profil Pelajar Pancasila”.

Pemahaman saya tentang merumuskan visi dan membuat perubahan prakarsa dengan inkuisri apresiatif alur BAGJA semakin tercerahkan setelah saya mengikuti sesi elaborasi dengan instruktur. saya semakin paham bahwa visi itu dirumuskan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai atau gambaran murid impian dimana visi ini hendaknya memuat dimensi profil pelajar pancasila

Examination

Pada modul 1.3 ini kita diajak untuk belajar merumuskan suatu visi atau cita-cita yang kita impikan tentang murid, kemudian cita-cita tersebut kita susun untuk diwujudkan menjadi sebuah aksi nyata di kelas dengan sebuah prakarsa perubahan yang disusun dengan menggunakan model Inkuiri Apresiatif (IA) alur BAGJA . Pengalaman menyusun pertanyaan BAGJA ini adalah hal baru bagi saya dan tentunya sangat bermanfaat.  Selama ini saya memang punya mimpi tentang siswa tetapi mimpi itu tidak bias terwujud dengan baik karena tidak mempunyai prakarsa perubahan. Saya hanya menunggu , padahal untuk mencapai tujuan yang kita impikan maka harus mulai dari diri untuk Bergerak. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk bergerak jika kita tidak mulai untuk bergerak. Kita harus bergerak menjadi pelopor perubahan sehingga orang lain agar ikut tergerak untuk melakukan perubahan bersama-sama.

Articulation of Learning

Pada tahap ini saya mempelajari Cara mewujudkan Visi impian dan melakukan proses perubahan dengan menggunakan pendekatan atau paradigma Inkuiri Apresiatif (IA) yang dikembangkan oleh David Cooperrider (Cooperrider & Whitney, 2005; Noble & McGrath,2016)

Inkuiri Apresiatif (IA) merupakan pendekatan kolaboratif berbasis kekuatan yang bertujuan untuk melakukan perubahan yang membawa perbaikan dalam suatu sistem massal di sekolah dalam lingkup kecil yaitu di kelas. Manajemen perubahan yang saya lakukan adalah dengan menyusun tindakan menggunakan Tahapan BAGJA dengan berbasis kekuatan atau potensi yang ada.

Dari pembelajaran tersebut saya merencanakan ke dalam aksi nyata saya di kelas dan di sekolah mewujudkan visi impian dengan merumuskan prakarsa perubahan yang saya fokuskan pada pembiasaan dan pembelajaran model pembelajaran yang berpusat pada murid. Pembiasaan atau budaya positif yang dapat menumbuhkan yang kompeten, memiliki daya saing dan siap untuk ditempatkan dimanapun serta yang tak kalah penting siswa harus mempunyai karakter pelajar pancasila dan budaya kerja sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan nyata setelah lulus SMK. Karena murid SMK harus BISA, murid SMK harus HEBAT, SMK BISA HEBAT


Share:

VISI GURU PENGGERAK

 Koneksi Antar Materi Modul 1.3

Visi Perubahan Berdasarkan Nilai Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Nilai filosofi Ki Hadjar Dewantara yang utama berkaitan dengan bagaimana konsep mendidik yaitu mendidik sesuai kodrat alam dan kodrat zaman sang anak yang berarti mendidik sesuai tahapan tumbuh kembang anak. Sebagai pendidik tidak boleh memaksakan pencapaian anak di luar kodrat tumbuh kembangnya.

Begitu juga dalam menjalankan peran sebagai guru penggerak, harus mengimplementasikan nilai guru penggerak yang berpihak pada peserta didik. Bagaimana implementasi sikap guru yang berpihak pada peserta didik ini? Wujud dari keberpihakan pada peserta didik bisa di lihat dari strategi pembelajaran, pengaturan ruang kelas, tempat duduk, desain gambar dan pajangan karya siswa di kelas yang mendukung keberpihakan pada peserta didik. Bagaimana desain pembelajaran yang sesuai dengan nilai berpihak pada peserta didik yaitu desain pembelajaran yang menyenangkan, inovatif dan berpusat pada peserta didik. Bagaimana percakapan kita dengan guru lain/topik diskusi adalah berfokus pada peserta didik. Apapun yang kita lakukan dalam perubahan di sekolah hendaknya selalu berorientasi pada peserta didik.

Dalam Modul 1.2 calon guru penggerak di bekali pengetahuan tentang 5 nilai yang harus dimiliki untuk bisa mewujudkan visi sebagai guru penggerak. Salah satu nilai yang utama adalah Berpihak pada murid. Dengan memegang teguh nilai yang berpihak pada murid dan mengaplikasikan nilai ini untuk mewujudkan visi perubahan, maka proses perubahan untuk mewujudkan visi murid yang merdeka belajar akan terwujud. Dalam modul 1.3 calon guru penggerak harus membuat sebuah visi untuk murid yang akan diterapkan dalam sebuah rencana perubahan dengan menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif model BAGJA. BAGJA adalah sebuah model perencanaan perubahan yang memiliki alur atau tahapan dari perencanaan perubahan hingga eksekusi atau aksi nyata yang dilakukan dalam mewujudkan perubahan yang diinginkan.

Profil Pelajar Pancasila Sebagai Tujuan Utama

Sejatinya profil pelajar pancasila merupakan nilai atau karakter peserta didik yang harus ditumbuhkan agar pesertaidik dapat mencapai kebahagiaan dan kesuksesan hidup bermasyarakat

Profil pelajar pancasila merupakan sebuah kompetensi lulusan yang diharapkan dimiliki oleh peserta didik. Profil pelajar Pancasila berisi 6 karakter dan kompetensi yang harus dimiliki, dan sebagai guru keenam karakter dan kompetensi harus kita tumbuhkan di ruang kelas dan sekolah dengan berpijak pada konsep bagaimana karakter bertumbuh. Untuk mewujudkan perubahan pada diri peserta didik dengan keenam karakter profil pelajar Pancasila, seorang guru harus mengelola perubahan di kelas, memulai perubahan dengan melibatkan semua komponen pemangku kepentingan di sekolah, memetakan semua potensi atau kekuatan positif yang dimiliki oleh peserta didik, guru, dan semua pemangku kepentingan. Dengan berkolaborasi dan melibatkan semua aset, maka perubahan atau usaha penumbuhan karakter Pancasila melalui usaha membuat aturan/ regulasi sekolah dan menerapkan kebiasaan-kebiasaan baik /budaya sekolah yang mencerminkan karakter profil Pancasila, maka karakter tersebut akan tertanam dalam diri peserta didik.

Pendekatan Inkuiri Aspiratif Sebagai Strategi Mewujudkan Visi

Setelah memahami Filosofi pendidikan KHD sebagai landasan pedagogis dalam melakukan perubahan menuntun anak didik sesuai kodratnya, dengan melaksanakan nilai dan peran guru penggerak yang selalu berpihak pada anak didik. Maka untuk melaksanakan perubahan pola didik kita dari pola lama menuju pola didik yang sesuai Filosofi KHD Perlu sebuah strategi yang tepat untuk Mewujudkan perubahan. Pada modul 1.3 itu para CGP diperkenalkan dengan strategi untuk mengelola perubahan tersebut yang dikenal dengan Pendekatan Inkuiri Apresiatif.

Untuk mewujudkan perubahan dengan menggunakan pendekatan kolaboratif IA, seorang guru harus memahami bahwa pendekatan ini berbasis pada kolaborasi, dengan melakukan pemetaan komponen pemangku kepentingan di sekolah sebagai sebuah aset atau sumber daya untuk membangun kekuatan positif mewujudkan visi anak didik.

Rumusan Visi

Pada Modul 1.3 ini, calon guru penggerak diharapkan menyusun sebuah visi untuk peserta didik yang diharapkan langsung bisa diwujudkan dalam sebuah aksi nyata yang akan diaplikasikan di sekolah. Sehingga perlu kiranya disusun visi agar memudahkan dalam implementasi, sehingga bisa dengan mudah menciptakan perubahan secara terencana dan terukur.

 VISI UNTUK MURID

Terwujudnya Peserta Didik yang Kompeten, Berdaya Saing dan Berkarakter Profil Pelajar

Perubahan yang Paling diperlukan di Sekolah/ di Kelas untuk mewujdukan visi di atas adalah:

1.    Menumbuhkan keberanian berpendapat

2.    Menumbuhkan kreativitas peserta didik

3.    Meningkatkan keaktifan peserta didik

4.    Meningkatkan kolaborasi antar peserta didik

5.    Menumbuhkan daya nalar kritis pada peserta didik



Untuk memulai perubahan hendaknya dimulai dari hal yang kecil, karena sejatinya perubahan membutuhkan tahapan. Dari keberhasilan di setiap tahapan maka akan menghasilkan perubahan dalam lingkup yang lebih luas. Untuk merencanakan dan mewujudkan perubahan menjadi sebuah aksi nyata, maka Visi untuk murid yang dibuat akan di wujudkan dalam sebuah rencana tahapan BAGJA sebagai langkah pemandu mengelola perubahan yang diinginkan.
Share:

CIRCLE POSITIF DALAM NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

Tak terasa Pendidikan Guru Penggerak Angkatan 5 sudah memasuki penghujung modul 1.2. Banyak hal berharga yang saya peroleh selama Pendidikan Guru Penggerak ini. Sebagai Calon Guru Penggerakyang berada dalam circle positif, saya seakan mendapatkan asupan nutrisi untuk memompa semangat dalam melakukan hal-hal positif. Modul 1.2 membahas tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Pengalaman berharga saya dapatkan dengan mempelajari modul 1.2 didukung dengan hadirnya para guru-guru CGP hebat, Pengajar praktik yang penuh dengan semangat dan fasilitator yang selalu menginspirasi. Melalui Jurnal Dwi Mingguan ini saya mencoba sedikit menjabarkan pengalaman yang saya peroleh setelah mempelajari modul 1.2. Masih sama seperti modul 1.1, pada modul 1.2 saya menjabarkan jurnal dwi mingguan menggunakan model 4F atau 4P

1.         FACT (PERISTIWA)

Modul 1.2 dimulai dengan video yang dibawakan oleh Bapak Aditya Dharma. Dalam video beliau memaparkan bagaimana nilai dan peran guru penggerak, bagaimana seorang guru penggerak menciptakan pembelajaran yang berkesan sesuai dengan nilai dan peran yang harus dimiliki oleh guru penggerak, bagaimana seorang guru penggerak mampu memotivasi dirinya sendiri dan menggerakkan komunitas sekitarnya untuk bergerak dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan sesuai dengan filosofi KHD.

Masih dalam modul 1.2, sebagai calon guru penggerak diharapkan mempu untuk menilai diri sendiri, selain memahami nilai dan peran, guru penggerak harus bisa merefleksikan peristiwa masa lalu dan membayangkan untuk masa depan. Dalam modul 1.2, saya diminta untuk melakukan refleksi diri dengan menggunakan trapesium usia. Setelah merefleksikan diri, pada sesi ekplorasi konsep, saya harus mempelajari hubungan antara emosi, cara kerja otak, kebutuhan dasar manusia, daya untuk memilih, motivasi intrinsic, struktur sistemik lingkungan dalam pembentukan nilai dalam diri seseorang, menjelaskan makna Profil Pelajar pancasila dalam transformasi pendidikan, menjelaskan nilai-nilai yang perlu dikembangkan oleh guru penggerak, menjelaskan makna peran guru penggerak, megetahui bahwa keteladanan dan system pembiasaan yang konsisten di suatu lingkungan mempengaruhi penumbuhan nilai-nilai dalam diri seseorang.

Setelah mempelajari beberapa hal yang berujung pada nilai dan peran guru penggerak, selanjutnya saya harus membuat gambaran umum atau mungkin bisa dikatakan merangkai mimpi sebagai guru penggerak selamaa 3 tahun kedepan. Dengan program yang terencana, diharapkan kelak bisa direalisasikan dengan baik, sehingga perdikat Guru Penggerak bukanlah sekedar predikat, tapi benar-benar menjadi pembeda dan pendobrak perubahan pendidikan yang lebih baik.

Sesi terakhir dari modul 1.2 adalah Lokakrya. Lokakrya merupakan momentum untuk penguatan diri, pada lokakrya Calon Guru Penggerak dipandu oleh Pengajar Praktik untuk memperkuat modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak. Lokakarya inilah yang nantinya dapat menghipnotis para CGP untuk benar-benar hanyut dalam konsep berpikir yang dibentuk oleh orang-orang yang peduli dengan pendidikan. Dalam lokakarya, anatar CGP dan PP saling menguatkan agar benar-benar bisa mewujudkan mimpi Guru Penggerak untuk berkontribusi memperbaiki system pendidikan. Circle positif dibangun untuk bisa tergerak, bergerak dan menggerakkan.

2.         FEELING (PERASAAN)

Setelah mempelajari modul 1.2 saya merasa seperti mendapatkan asupan tambahan agar lebih bersemangat dalam mengembangkan pembelajaran. Dalam modul 1.2 dijelaskan terkait nilai dan peran seorang Guru Penggerak yang mana seorang Guru Penggerak harus bisa menjadi pemimpin pembelajaran, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi, mewujudkan kepemimpinan murid dan menggerakkan komunitas praktisi. Dengan mempelajari modul tersebut saya mulai paham apa yang harus saya lakukan agar berperan dalam perbaikan dunia pendidikan. Sebagai seorang guru penggerak kelak saya akan menerapkan nilai dan peran guru penggerak dengan semaksimal mungkin.

3.         FINDING (PEMBELAJARAN)

Pada modul 1.2 ini saya mempelajari cara kerja otak dan juga lima kebutuhan dasar manusai. Hal ini sangat bermanfaat dalam penerapan pembelajaran, khususnya untuk memfasilitasi siswa yang beragam dan tidak boleh disamakan. Selain itu dengan mempelajari modul 1.2 saya mulai paham tentang nilai dan peran Guru Penggerak sebagai modal utama saya untuk melangkah dan mewujudkan mimpi pendidikan yang baik. Selain dari modul, banyak juga pembelajaran yang saya dapatkan, khususnya dari rekan-rekan peserta Pendidikan guru Penggerak angkatan 5, Pengajar Praktik dan Fasilitator. Dari mereka saya mulai sadar bahwa seorang pendidik harus berpikir positif untuk bertindak positif dan berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

4.         FUTURE (PENERAPAN)

Setelah mempelajari modul 1.2, saya akan berusaha secara maksimal untuk bisa menerapkan nilai dan peran Guru Penggerak melalui kegiatan pembelajaran yang berpihak pada murid. Saya juga akan terus berinovasi dengan menciptakan ide-ide baru sebagai bentuk nilai inovatif. Disamping itu saya akan mencoba untuk menjadi pribadi yang terbuka dan belajar dari kesalahan, hal ini sejalan dengan salah satu nilai Guru Penggerak yaitu reflektif. Sebagai seorang Calon guru Penggerak, selayaknya saya harus mandiri untuk tergerak, bergerak dan menggerakkan.

Share:

MARI BERGERAK BERSAMA GURU PENGGERAK

KONEKSI ANTAR MATERI – MODUL 1.2

Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):

1.      Peristiwa

Modul 1.1 dan modul 1.2 merupakan dua hal yang saling berkaitan. Momen yang paling mencerahkan bagi saya adalah nilai dan peran Guru Penggerak diharapkan mampu mewujudkan pembelajaran yang selaras dengan filosofi KHD. Sejatinya, pembelajaran tidak hanya sebatas transfer pengetahuan (Knowledge) semata, tetapi lebih pada penanaman nilai-nilai kehidupan dan spiritual. Jika mengacu pada hal tersebut, pendidikan karakter merupakan pondasi utama dalam pembelajaran. Pendidikan pada akhirnya bertujuan untuk memanusiakan manusia, sehingga tugas seorang guru penggerak yaitu menuntun murdi dalam pembelajaran untuk bisa berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Sebagaimana seorang petani menumbuhkan tanaman dengan penuh kasih sayang dan kesabaran, guru penggerak juga harus memfasilitasi anak dalam pembelajaran dengan penuh kasih saying dan kesabaran agar anak bisa berkembang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya, sehingga laku siswa bisa selaras antara budi dan pekertinya yang menjadikan manusia merdeka seutuhnya.

Mengenai keterkaitan antara nilai dan peran guru penggerak dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara yaitu guru dapat menjalankan nilai dan peran dengan baik dan konsisten untuk mandiri, reflektif inovatif, kolaboratif, pembelajaran yang berpusat pada murid. Dalam pengimplementasiannya, seorang guru penggerak harus berpegang pada Trilogi Pendidikan yang diajarkan oleh KHD, yaitu ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Pemikiran tersebut tidak terlepas dari nilai dan peran seorang guru pada pendidikan Adapun nilai-nilai dan peran seorang guru penggerak antara lain sebagai berikut:

  • Memimpin pembelajaran  yang kolaboratif, reflektif  dan inovatif
  • Menjadi coach bagi guru  lain yang mandiri dan  kolaboratif
  • Mendorong kolaborasi  baik dengan siswa maupun sesame guru
  • Menggerakkan komunitas praktisi yang dilaksanakan  secara kolaboratif

2.      Perasaan

Saat momen itu terjadi saya menjadi sadar bahwa pemahaman awal saya tentang pembelajaran salah besar. Saya merasa mendapat tamparan yang luar biasa, sehingga saya mulai merenung, mengevaluasi dan mereset pikiran saya terkait pembelajaran dengan bertekad dan termotivasi untuk merubah haluan dan melaksanakan pembelajaran baru sesuai dengan nilai dan peran guru penggerak.

3.      Pembelajaran: 

Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa bahwa pembelajaran yang paling efektif adalah pembelajaran yang berpusat pada guru, guru berhak mengarahkan murid untuk mengikuti apa yang diinginkannya. Guru juga hanya terpacu pada ketuntasan pencapaian materi belaka . setelah mempelajari modul 1.1 dan 1.2 saya berpikir bahwa Pembelajaran harus berpihak pada murid, pembelajaran harus mengantarkan murid menjadi manusia merdeka sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya, seorang guru penggerak harus memunculkan nilai positif pada dirinya untuk mewujudkan filosofi pendidikan KHD dengan berpegang pada nilai dan peran guru penggerak.

4.      Penerapan ke depan (Rencana): 

Pengembangan diri yang sederhana, konkret dan berusaha untuk konsisten saya lakukan mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak yaitu:

  • Memperbanyak literasi terkait pembelajaran yang manarik dan bermakna
  • Melakukan sharing dengan rekan sejawat maupun rekan CGP terkait pembelajaran yang baik
  • Mendesain pembelajaran yang kontekstual berbasis kinerja dan proyek.
  • Melakukan kolaborasi dengan kepala sekolah, rekan sejawat, maupun orang tua siswa terkait keberhasilan pembelajaran dan pendidikan
  • Berupaya selalu memunculkan inovasi dan memunculkan ide-ide kreatif dalam mensukseskan proses pembelajaran


MUH. AMRI MUKHTARIFIN, S.Pd.,Gr.
CALON GURU PENGGERAK (CGP) ANGKATAN 5
SMK NEGERI 1 BRONDONG


Share:

TERGERAK, BERGERAK DAN MENGGERAKKAN

Dalam Pendidikan Guru Penggerak (PGP), jurnal refleksi dipandang sebagai salah satu elemen kunci pengembangan keprofesian karena dapat mendorong guru untuk mengaitkan teori dan praktik, serta menumbuhkan keterampilan dalam mengevaluasi sebuah topik secara kritis (Bain dkk, 1999). Menuliskan jurnal refleksi secara rutin akan memberikan ruang bagi seorang praktisi untuk mengambil jeda dan merenungi apakah praktik yang dijalankannya sudah sesuai, sehingga ia dapat memikirkan langkah berikutnya untuk meningkatkan praktik yang sudah berlangsung (Driscoll & Teh, 2001). Jurnal ini juga dapat menjadi sarana untuk menyadari emosi dan reaksi diri yang terjadi sepanjang pembelajaran (Denton, 2018), sehingga seorang guru penggerak dapat semakin mengenali diri sendiri. Pada minggu pertama, Jurnal yang dibuat terkait dengan refleksi pemikiran-pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara (KHD) sebagaimana modul 1.1 yang telah dipelajari melalui Learning Management Sistem (LMS).

Jurnal refleksi yang dibuat adalah jurnal refleksi yang bermakna. Ada beberapa model jurnal yang bisa dibuat oleh Calon Guru Penggerak (CGP), diantaranya:

1.    Model 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)

2.    Description, Examination and Articulation of Learning (DEAL)

3.    Six Thinking Hats (Teknik 6 Topi)

4.    Papan cerita reflektif - Reflective Storyboard

5.    Connection, challenge, concept, change (4C)

6.    Reporting, responding, relating, reasoning, reconstructing (5R)

7.    Segitiga Refleksi

8.    Model Driscoll

9.    Gaya Round Robin

Pada minggu pertama ini, saya menggunakan model 4F dalam menuliskan jurnal refleksi dwimingguan. Jurnal refleksi model 4F yang dikembangkan oleh Dr. Roger Greenaway terdiri dari 4 tahap, yaitu:

1.      FACTS/PERISTIWA

Setelah penantian panjang prosedur pendaftaran dan seleksi Calon Guru Penggerak (CGP), akhirnya kegiatan Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Angkatan 5 dimulai. Pembukaan PGP dilaksanakan pada tanggal 18 Mei 2022, dilanjutkan orientasi dan pengenalan LMS dan Pretest. Hari berikutnya langsung mengeksplore Learning Management System (LMS). Tahap demi tahap alur Merdeka Belajar di LMS harus dilalui yang diawali dengan “Mulai dari diri”. Untuk kegiatan di LMS, terutama menyelesaikan modul dan tugas, saya didampingi oleh Fasilitator dengan berdiskusi melalui Video Converence (Google Meet) menggunakan alur merdeka yang diawali dengan Modul 1.1 Pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) tentang dasar-dasar Pendidikan. Untuk memantapkan konsep dan mengelaborasi lebih jauh tentang pemikiran KHD maka CGP berdiskusi dengan fasilitator, Pengajar Praktik serta berkolaborasi dengan CGP lain untuk mendesain pembelajaran sesuai dengan pemikiran KHD dalam konteks budaya lokal. . Pengenalan dan pemantapan kembali diberikan melalui Loka Karya 0 (Orientasi). Pada Loka Karya Orientasi banyak hal yang saya dapatkan dari pengajar praktik dan juga bersinergi dengan CGP yang lain. Terutama berkaitan dengan charger semangat untuk bisa bergerak. Dengan terus mendengungkan motto Guru Penggerak, yaitu “Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan” saya termotivasi dengan Pengajar Praktik dan kawan-kawan CGP yang luar biasa.

Pengetahuan dan pengalaman baru yang saya peroleh setelah mempelajari secara mendalam pemikiran-pemikiran KHD yaitu banyak hal positif yang sangat luar biasa dan seharusnya sudah tertanam dan menjadi dasar bagi seorang pendidik dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya. Pemikiran KHD tentang Pendidikan sejatinya mengubah pola pikir bagaimana pendidikan dan juga pendidik yang menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada diri anak yaitu kodrat alam dan kodrat zaman. Pemikiran KHD tentang hal tersebut membuka mata dan wawasan saya tentang pendidikan yang selama ini hanya terpaku dengan kurikulum yang berlaku tanpa memperhatikan secara serius tentang Pendidikan sesungguhnya.

2.      FEELINGS/PERASAAN

Perasaan saya sangat senang, gembira dan bangga menjadi bagian dari transformasi pendidikan. Harapan dan kekhawatiran muncul. Harapannya saya bisa mengerjakan semua tugas yang diberikan selama Pendidikan Guru Penggerak dan nantinya menjadi Guru Penggerak yang bisa menggerakan komunitas dan ekosistem sekolah. Kekhawatiran yang muncul yaitu tidak bisa membagi waktu untuk keluarga dan tugas utama di sekolah.

Sangatlah wajar,perasaan tersebut muncul diakibatkan kegiatan yang ada pada LMS, walaupun menggunakan alur merdeka tetapi tetap saja harus diselesaikan bersama kegiatan utama. Dengan niat yang tulus dan semangat membara, setelah menjalani kegiatan ternyata tidak serumit yang dikhawatirkan. Justru saya senang karena bisa mendapatkan pengetahuan, pengalaman, bahkan teman baru yang luar biasa dan mempunyai circle positif. Perasaan tertantang mulai muncul akibat tuntutan menyesuaikan diri dengan pembelajaran yang ada dalam LMS. Selain persaan tersebut masih banyak lagi perasaan yang mungkin sulit untuk dideskripsikan, tetapi semua terbalut dalam satu rasa semangat membara untuk menjadi agen transformasi Pendidikan di sekolah, Kabupaten Lamongan dan juga Indonesia pada umumnya.

3.      FINDINGS/PEMBELAJARAN

Banyak hal posistif yang saya peroleh dari proses pembelajaran minggu ini, diantaranya pendidik perlu pandai-pandai merefleksi diri terutama melihat kelebihan dan kekurangan diri untuk kemudian diperbaiki guna mewujudkan merdeka belajar di kelas. Pendidik juga perlu menuntun siswa sesuai kodratnya baik kodrat alam maupun kodrat zamannya, mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada siswa serta menggerakan ekosistem sekolah demi mewujudkan merdeka belajar sesuai kearifan budaya lokal.

4.      FUTURE/PENERAPAN

Setelah memahami pemikiran Ki Hajar Dewantara (KHD) secara holistik, maka implementasi yang dilakukan adalah melakukan perubahan praktik pembelajaran yang mencerminkan nilai-nilai luhur pemikiran Ki Hajar Dewantara sesuai dengan kultur atau budaya daerah, merancang proses pembelajaran yang sesuai dengan profil pelajar pancasila untuk kemudian dilaksanakan dalam proses pembelajaran di sekolah dengan harapan menumbuhkan Profil Pelajar Pancasila, menciptakan atmosfer positif di lingkungan sekolah dan berkolaborasi dengan teman sejawat. Salah satu contoh perubahan pembelajaran yang saya lakukan yaitu dengan merubah strategi pembelajaran konvensional menjadi pembelajaran berbasis kinerja dan proyek. Dengan pembelajaran berbasis kinerja dan proyek, pembelajaran jadi lebih bermakna dan menyenangkan. Sehingga siswa bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan kodrat dalam dan kodrat zamannya. Dengan terus memegang Motto Guru Penggerak, seorang guru harus mempu tergerak, bergerak dan menggerakkan untuk mewujdukan tujuan pendidikan sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara.
Share:

Blogroll

Popular Post

Followers

Blog Stats


AD (728x90)

Popular Posts

Labels Cloud

Recent Posts