Akhir-akhir ini, kata “digitalisasi” terdengar begitu gagah. Ia diucapkan dalam forum-forum resmi, dipasang di spanduk besar, dipresentasikan dengan slide penuh animasi dan grafik. Sekolah-sekolah berlomba menjadi modern. Aplikasi diluncurkan. Sistem terintegrasi diperkenalkan. Artificial Intelligence mulai masuk ke ruang-ruang yang dulu hanya berisi kapur dan papan tulis.
Sebagai guru, saya tentu tidak alergi pada perubahan. Saya hidup di zaman yang terus bergerak. Murid-murid saya lahir dengan gawai di tangan. Dunia mereka berbeda dengan dunia masa kecil saya. Maka menolak digitalisasi sama saja dengan menolak kenyataan.
Tetapi di tengah euforia itu, saya sering bertanya dalam diam: apakah kita sedang benar-benar bertransformasi, atau hanya sibuk terlihat modern?
Karena modernitas sering kali menipu. Ia bisa membuat sesuatu tampak maju, padahal fondasinya belum tentu berubah.
Saya pernah menyaksikan sekolah yang begitu bangga dengan sistem barunya. Dashboard canggih. Data siswa real-time. Laporan bisa diakses kapan saja. Tetapi ketika saya masuk ke kelasnya, pola pembelajarannya masih sama: guru bicara panjang, siswa mencatat, tugas menumpuk, nilai menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Hanya saja kini tugasnya dikumpulkan lewat platform digital.
Medianya berubah. Cara berpikirnya tidak.
Di situlah kegelisahan saya bermula.
Digitalisasi seharusnya bukan sekadar memindahkan aktivitas lama ke layar. Ia mestinya mengubah cara kita memandang pendidikan. Data bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk direfleksikan. Sistem bukan untuk memperbanyak laporan, tetapi untuk menyederhanakan kerja. Teknologi bukan untuk menambah beban, tetapi untuk mengurangi yang tidak perlu.
Namun realitas di lapangan tidak selalu seideal itu.
Tidak sedikit guru yang justru merasa kelelahan dengan “gelombang aplikasi”. Setiap tahun ada sistem baru. Setiap semester ada pembaruan. Username dan password bertambah. Pelatihan datang silih berganti. Sementara di ruang kelas, anak-anak tetap membutuhkan perhatian yang sama, bahkan lebih besar dari sebelumnya.
Kadang saya merasa, guru seperti sedang berlari di atas treadmill. Terlihat bergerak, tetapi tidak benar-benar maju. Energi habis untuk administrasi, bukan untuk inovasi. Lalu kita berbicara tentang Artificial Intelligence.
AI dipresentasikan sebagai solusi masa depan. Ia bisa membaca pola belajar siswa, menganalisis perkembangan, bahkan memprediksi kebutuhan pembelajaran. Di atas kertas, semuanya terdengar luar biasa.
Tetapi saya percaya satu hal: AI mungkin bisa membaca data, tapi ia tidak bisa membaca hati.
Ia tidak tahu kapan seorang siswa sebenarnya sedang rapuh meski nilainya bagus. Ia tidak tahu bahwa ada anak yang tertidur di kelas bukan karena malas, tetapi karena membantu orang tuanya bekerja hingga larut malam. Ia tidak bisa menggantikan tatapan mata guru yang menangkap kecemasan tanpa kata.
Teknologi bisa memperkuat pendidikan, tetapi tidak bisa menggantikan kemanusiaannya.
Yang sering terlupakan dalam wacana digitalisasi adalah manusia itu sendiri. Kita terlalu sibuk membicarakan sistem, tetapi jarang membicarakan kesiapan dan kesejahteraan guru. Kita membangun platform masa depan, tetapi lupa memastikan bahwa orang-orang yang mengoperasikannya merasa dihargai dan didukung.
Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Anak-anak hebat, kompetitif, inovatif. Tetapi jarang kita jujur bertanya: apakah guru-gurunya sudah benar-benar disiapkan untuk itu? Apakah ekosistemnya sudah sehat? Apakah kebijakannya konsisten?
Jika digitalisasi hanya menjadi proyek prestise tanpa perubahan budaya kerja, maka ia akan berhenti sebagai simbol. Ia terlihat megah di panggung peluncuran, tetapi redup di ruang kelas.
Transformasi yang sejati selalu dimulai dari cara berpikir.
Dari keberanian untuk mengakui bahwa sistem lama memang perlu diperbaiki. Dari kerendahan hati untuk belajar hal baru. Dari komitmen untuk menggunakan data bukan sebagai alat kontrol semata, tetapi sebagai bahan refleksi bersama.
Sekolah masa depan bukanlah sekolah yang paling banyak aplikasinya. Ia adalah sekolah yang paling kuat kolaborasinya. Di mana kepala sekolah memimpin dengan visi, guru bertumbuh dengan dukungan, siswa merasa aman untuk berkembang, dan orang tua terlibat secara bermakna.
Teknologi hanya mempercepat proses. Ia tidak menentukan arah. Arah tetap ditentukan oleh nilai yang kita pegang. Jika nilai kita adalah pelayanan, maka digitalisasi akan mempermudah pelayanan. Jika nilai kita adalah kontrol semata, maka digitalisasi akan menjadi alat kontrol yang semakin canggih.
Sebagai seorang, saya memilih untuk tidak sekadar menjadi pengguna sistem. Saya ingin menjadi bagian dari kesadaran baru itu. Bahwa di tengah derasnya arus teknologi, sekolah tidak boleh kehilangan jiwanya. Bahwa kecanggihan tidak boleh mengalahkan empati. Bahwa efisiensi tidak boleh menyingkirkan kemanusiaan. Kita tidak bisa menghentikan zaman. Dan memang tidak perlu. Yang perlu kita jaga adalah arah.
Digitalisasi harus memerdekakan guru, bukan membebani. Harus memperkuat pembelajaran, bukan sekadar memperindah laporan. Harus mendekatkan sekolah dengan orang tua, bukan hanya mempercepat notifikasi. Jika itu yang kita lakukan, maka teknologi benar-benar menjadi sahabat pendidikan.
Namun jika tidak, kita hanya akan menciptakan ilusi kemajuan—terlihat maju, tetapi sebenarnya hanya berganti tampilan. Dan saya percaya, pendidikan terlalu berharga untuk sekadar dijadikan panggung ilusi.
Sekolah adalah ruang tumbuh. Ruang harapan. Ruang di mana masa depan bangsa dibentuk setiap hari, bukan lewat aplikasi, tetapi lewat interaksi manusia yang tulus. Maka mari kita sambut digitalisasi dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Dengan semangat belajar, tetapi juga dengan keberanian untuk kritis. Karena pada akhirnya, yang menentukan kualitas pendidikan bukan seberapa canggih sistemnya, melainkan seberapa kuat komitmen manusianya. Dan di sanalah perjuangan kita sebagai guru sebenarnya dimulai.







No comments:
Post a Comment