Namun pertanyaannya sederhana: fondasi seperti apa yang
sedang kita bangun?
Ekonomi tidak akan pernah tumbuh hanya dari konsumsi. Ia
tumbuh dari produksi. Dari tangan-tangan terampil yang mencipta. Dari
pikiran-pikiran terdidik yang berinovasi. Dari tubuh-tubuh sehat yang mampu
bekerja dan berkarya. Tanpa itu semua, pertumbuhan hanya akan menjadi
angka-angka statistik, bukan kesejahteraan nyata.
Dan di sinilah letak kegelisahan itu muncul.
Ketika Pendidikan dan Kesehatan Tidak Lagi Menjadi
Prioritas
Pendidikan dan kesehatan adalah dua tiang utama produksi
bangsa. Pendidikan melahirkan kompetensi. Kesehatan memastikan daya tahan dan
produktivitas. Jika dua sektor ini dilemahkan—baik melalui pemotongan anggaran,
ketidakseriusan kebijakan, atau minimnya keberpihakan—maka sesungguhnya yang
sedang dipotong adalah masa depan.
Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045.
Sebuah cita-cita besar menyongsong 100 tahun kemerdekaan. Indonesia diharapkan
menjadi negara maju dengan sumber daya manusia unggul. Namun bagaimana generasi
emas itu akan lahir jika ruang kelas kekurangan dukungan, fasilitas tidak
memadai, dan tenaga pendidik terus bergulat dengan persoalan kesejahteraan?
Banyak guru masih berjuang dengan penghasilan yang jauh dari
layak. Ada yang mengajar penuh dedikasi tetapi statusnya belum jelas. Ada yang
mengabdi puluhan tahun tanpa kepastian masa depan. Bahkan sebagian harus
mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.
Guru dituntut profesional. Guru diminta kreatif. Guru
diharapkan inovatif. Guru didorong menyiapkan murid agar siap bersaing di era
global dan digital. Semua tuntutan itu wajar. Namun apakah negara sudah
sepenuhnya hadir untuk memastikan kesejahteraan mereka?
Lebih menyakitkan lagi, ketika suatu saat target besar itu
tak tercapai—ketika kualitas sumber daya manusia dianggap belum memenuhi
harapan—yang pertama kali dituding adalah guru. Seolah kegagalan sistem adalah
kegagalan individu pendidik.
Padahal pendidikan bukan hanya urusan guru. Ia adalah
ekosistem. Ia adalah keputusan anggaran. Ia adalah keberanian politik untuk
menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama, bukan sekadar
pelengkap retorika.
Produksi Butuh Manusia Unggul
Ekonomi berbasis produksi menuntut tenaga kerja yang
kompeten. Industri maju membutuhkan keterampilan. Teknologi berkembang
memerlukan literasi digital. Semua itu berakar dari pendidikan yang
berkualitas.
Sementara itu, kesehatan menentukan kualitas belajar. Anak
yang kurang gizi sulit fokus. Remaja yang sering sakit tidak mampu menyerap
pembelajaran maksimal. Masyarakat yang rentan kesehatan akan kesulitan
produktif.
Maka jika pendidikan dan kesehatan dilemahkan, jangan heran
jika produktivitas stagnan. Jangan heran jika ketergantungan pada impor
meningkat. Jangan heran jika kesejahteraan sulit merata.
Kita tidak bisa membangun ekonomi kuat dengan manusia yang
lemah.
Guru Bukan Kambing Hitam Sejarah
Sebagai guru, kami berada di garis depan pembentukan
karakter dan kompetensi generasi. Di ruang kelas, kami mengajarkan kejujuran,
kerja keras, berpikir kritis, dan tanggung jawab. Kami menanamkan harapan bahwa
masa depan bisa lebih baik.
Namun guru bukan pembuat kebijakan anggaran. Guru bukan
penentu prioritas fiskal. Guru bukan pemegang kendali arah pembangunan
nasional.
Jika Generasi Emas 2045 benar-benar ingin diwujudkan, maka
guru harus diperlakukan sebagai investasi strategis. Kesejahteraan guru
bukanlah pemborosan. Ia adalah fondasi jangka panjang. Guru yang sejahtera
dapat fokus mendidik. Guru yang dihargai akan bekerja dengan hati yang lebih
tenang dan pikiran yang lebih jernih.
Bangsa yang besar selalu menghormati pendidiknya. Bukan
hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kebijakan nyata.
Kesadaran Politik dan Tanggung Jawab Rakyat
Pada akhirnya, arah bangsa ditentukan oleh pilihan politik.
Kebijakan anggaran pendidikan dan kesehatan bukan turun dari langit. Ia lahir
dari keputusan para pemimpin yang dipilih melalui pemilu.
Pemilu bukan sekadar seremoni lima tahunan. Ia adalah
momentum menentukan prioritas pembangunan. Apakah pendidikan akan diperkuat
atau dikurangi? Apakah kesehatan akan dijaga atau diabaikan? Apakah ekonomi
akan ditumbuhkan melalui produksi atau sekadar konsumsi?
Jika pilihan didasarkan pada uang sesaat, maka
konsekuensinya akan dirasakan bertahun-tahun. Politik uang tidak pernah gratis.
Ia dibayar dengan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
Maka kesadaran rakyat menjadi kunci. Suara bukan komoditas.
Suara adalah amanah sejarah. Masa depan anak-anak kita bergantung pada
keputusan hari ini.
Doa dan Harapan untuk Negeri
Kita semua tentu mencintai Indonesia. Kita ingin melihat
merah putih tetap berkibar dengan gagah. Kita ingin melihat anak-anak tumbuh
cerdas, sehat, dan berakhlak. Kita ingin Generasi Emas 2045 benar-benar menjadi
kenyataan, bukan sekadar slogan.
Mari kita tutup dengan doa dan harapan:
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
Lindungi negeri ini dari kebijakan yang merugikan masa depannya.
Kuatkan para guru agar tetap ikhlas dan teguh dalam mendidik.
Sehatkan generasi muda kami, cerdaskan akalnya, dan lembutkan hatinya.
Anugerahkan kepada bangsa ini pemimpin yang jujur, amanah, dan benar-benar
berpihak kepada rakyat.
Tumbuhkan kesadaran dalam diri kami semua bahwa pemilu adalah penentu arah
bangsa, bukan sekadar ajang menerima amplop sesaat.
Semoga Indonesia berdiri di atas fondasi yang kokoh: pendidikan yang bermutu, kesehatan yang merata, dan ekonomi yang bertumpu pada produksi serta keadilan. Semoga Generasi Emas 2045 benar-benar terwujud. Dan semoga negeri ini terus berkibar dengan martabat dan keberkahan.







No comments:
Post a Comment