Digitalisasi Sekolah: Transformasi atau Sekadar Ganti Tampilan?

 

Akhir-akhir ini, kata “digitalisasi” terdengar begitu gagah. Ia diucapkan dalam forum-forum resmi, dipasang di spanduk besar, dipresentasikan dengan slide penuh animasi dan grafik. Sekolah-sekolah berlomba menjadi modern. Aplikasi diluncurkan. Sistem terintegrasi diperkenalkan. Artificial Intelligence mulai masuk ke ruang-ruang yang dulu hanya berisi kapur dan papan tulis.

Sebagai guru, saya tentu tidak alergi pada perubahan. Saya hidup di zaman yang terus bergerak. Murid-murid saya lahir dengan gawai di tangan. Dunia mereka berbeda dengan dunia masa kecil saya. Maka menolak digitalisasi sama saja dengan menolak kenyataan.

Tetapi di tengah euforia itu, saya sering bertanya dalam diam: apakah kita sedang benar-benar bertransformasi, atau hanya sibuk terlihat modern?

Karena modernitas sering kali menipu. Ia bisa membuat sesuatu tampak maju, padahal fondasinya belum tentu berubah.

Saya pernah menyaksikan sekolah yang begitu bangga dengan sistem barunya. Dashboard canggih. Data siswa real-time. Laporan bisa diakses kapan saja. Tetapi ketika saya masuk ke kelasnya, pola pembelajarannya masih sama: guru bicara panjang, siswa mencatat, tugas menumpuk, nilai menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Hanya saja kini tugasnya dikumpulkan lewat platform digital.

Medianya berubah. Cara berpikirnya tidak.

Di situlah kegelisahan saya bermula.

Digitalisasi seharusnya bukan sekadar memindahkan aktivitas lama ke layar. Ia mestinya mengubah cara kita memandang pendidikan. Data bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk direfleksikan. Sistem bukan untuk memperbanyak laporan, tetapi untuk menyederhanakan kerja. Teknologi bukan untuk menambah beban, tetapi untuk mengurangi yang tidak perlu.

Namun realitas di lapangan tidak selalu seideal itu.

Tidak sedikit guru yang justru merasa kelelahan dengan “gelombang aplikasi”. Setiap tahun ada sistem baru. Setiap semester ada pembaruan. Username dan password bertambah. Pelatihan datang silih berganti. Sementara di ruang kelas, anak-anak tetap membutuhkan perhatian yang sama, bahkan lebih besar dari sebelumnya.

Kadang saya merasa, guru seperti sedang berlari di atas treadmill. Terlihat bergerak, tetapi tidak benar-benar maju. Energi habis untuk administrasi, bukan untuk inovasi. Lalu kita berbicara tentang Artificial Intelligence.

AI dipresentasikan sebagai solusi masa depan. Ia bisa membaca pola belajar siswa, menganalisis perkembangan, bahkan memprediksi kebutuhan pembelajaran. Di atas kertas, semuanya terdengar luar biasa.

Tetapi saya percaya satu hal: AI mungkin bisa membaca data, tapi ia tidak bisa membaca hati.

Ia tidak tahu kapan seorang siswa sebenarnya sedang rapuh meski nilainya bagus. Ia tidak tahu bahwa ada anak yang tertidur di kelas bukan karena malas, tetapi karena membantu orang tuanya bekerja hingga larut malam. Ia tidak bisa menggantikan tatapan mata guru yang menangkap kecemasan tanpa kata.

Teknologi bisa memperkuat pendidikan, tetapi tidak bisa menggantikan kemanusiaannya.

Yang sering terlupakan dalam wacana digitalisasi adalah manusia itu sendiri. Kita terlalu sibuk membicarakan sistem, tetapi jarang membicarakan kesiapan dan kesejahteraan guru. Kita membangun platform masa depan, tetapi lupa memastikan bahwa orang-orang yang mengoperasikannya merasa dihargai dan didukung.

Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Anak-anak hebat, kompetitif, inovatif. Tetapi jarang kita jujur bertanya: apakah guru-gurunya sudah benar-benar disiapkan untuk itu? Apakah ekosistemnya sudah sehat? Apakah kebijakannya konsisten?

Jika digitalisasi hanya menjadi proyek prestise tanpa perubahan budaya kerja, maka ia akan berhenti sebagai simbol. Ia terlihat megah di panggung peluncuran, tetapi redup di ruang kelas.

Transformasi yang sejati selalu dimulai dari cara berpikir.

Dari keberanian untuk mengakui bahwa sistem lama memang perlu diperbaiki. Dari kerendahan hati untuk belajar hal baru. Dari komitmen untuk menggunakan data bukan sebagai alat kontrol semata, tetapi sebagai bahan refleksi bersama.

Sekolah masa depan bukanlah sekolah yang paling banyak aplikasinya. Ia adalah sekolah yang paling kuat kolaborasinya. Di mana kepala sekolah memimpin dengan visi, guru bertumbuh dengan dukungan, siswa merasa aman untuk berkembang, dan orang tua terlibat secara bermakna.

Teknologi hanya mempercepat proses. Ia tidak menentukan arah. Arah tetap ditentukan oleh nilai yang kita pegang. Jika nilai kita adalah pelayanan, maka digitalisasi akan mempermudah pelayanan. Jika nilai kita adalah kontrol semata, maka digitalisasi akan menjadi alat kontrol yang semakin canggih.

Sebagai seorang, saya memilih untuk tidak sekadar menjadi pengguna sistem. Saya ingin menjadi bagian dari kesadaran baru itu. Bahwa di tengah derasnya arus teknologi, sekolah tidak boleh kehilangan jiwanya. Bahwa kecanggihan tidak boleh mengalahkan empati. Bahwa efisiensi tidak boleh menyingkirkan kemanusiaan. Kita tidak bisa menghentikan zaman. Dan memang tidak perlu. Yang perlu kita jaga adalah arah.

Digitalisasi harus memerdekakan guru, bukan membebani. Harus memperkuat pembelajaran, bukan sekadar memperindah laporan. Harus mendekatkan sekolah dengan orang tua, bukan hanya mempercepat notifikasi. Jika itu yang kita lakukan, maka teknologi benar-benar menjadi sahabat pendidikan.

Namun jika tidak, kita hanya akan menciptakan ilusi kemajuan—terlihat maju, tetapi sebenarnya hanya berganti tampilan. Dan saya percaya, pendidikan terlalu berharga untuk sekadar dijadikan panggung ilusi.

Sekolah adalah ruang tumbuh. Ruang harapan. Ruang di mana masa depan bangsa dibentuk setiap hari, bukan lewat aplikasi, tetapi lewat interaksi manusia yang tulus. Maka mari kita sambut digitalisasi dengan kepala dingin dan hati yang jernih. Dengan semangat belajar, tetapi juga dengan keberanian untuk kritis. Karena pada akhirnya, yang menentukan kualitas pendidikan bukan seberapa canggih sistemnya, melainkan seberapa kuat komitmen manusianya. Dan di sanalah perjuangan kita sebagai guru sebenarnya dimulai.

Share:

Pilar yang Rapuh, Masa Depan yang Dipertaruhkan

Ada narasi besar yang sering kita dengar: ekonomi harus kuat, fondasi kokoh, pertumbuhan stabil. Kalimat-kalimat itu terdengar meyakinkan. Seolah semuanya terkendali. Seolah negeri ini sedang dibangun di atas tiang-tiang yang tak tergoyahkan.

Namun pertanyaannya sederhana: fondasi seperti apa yang sedang kita bangun?

Ekonomi tidak akan pernah tumbuh hanya dari konsumsi. Ia tumbuh dari produksi. Dari tangan-tangan terampil yang mencipta. Dari pikiran-pikiran terdidik yang berinovasi. Dari tubuh-tubuh sehat yang mampu bekerja dan berkarya. Tanpa itu semua, pertumbuhan hanya akan menjadi angka-angka statistik, bukan kesejahteraan nyata.

Dan di sinilah letak kegelisahan itu muncul.

Ketika Pendidikan dan Kesehatan Tidak Lagi Menjadi Prioritas

Pendidikan dan kesehatan adalah dua tiang utama produksi bangsa. Pendidikan melahirkan kompetensi. Kesehatan memastikan daya tahan dan produktivitas. Jika dua sektor ini dilemahkan—baik melalui pemotongan anggaran, ketidakseriusan kebijakan, atau minimnya keberpihakan—maka sesungguhnya yang sedang dipotong adalah masa depan.

Kita sering berbicara tentang Generasi Emas 2045. Sebuah cita-cita besar menyongsong 100 tahun kemerdekaan. Indonesia diharapkan menjadi negara maju dengan sumber daya manusia unggul. Namun bagaimana generasi emas itu akan lahir jika ruang kelas kekurangan dukungan, fasilitas tidak memadai, dan tenaga pendidik terus bergulat dengan persoalan kesejahteraan?

Banyak guru masih berjuang dengan penghasilan yang jauh dari layak. Ada yang mengajar penuh dedikasi tetapi statusnya belum jelas. Ada yang mengabdi puluhan tahun tanpa kepastian masa depan. Bahkan sebagian harus mencari pekerjaan tambahan demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Guru dituntut profesional. Guru diminta kreatif. Guru diharapkan inovatif. Guru didorong menyiapkan murid agar siap bersaing di era global dan digital. Semua tuntutan itu wajar. Namun apakah negara sudah sepenuhnya hadir untuk memastikan kesejahteraan mereka?

Lebih menyakitkan lagi, ketika suatu saat target besar itu tak tercapai—ketika kualitas sumber daya manusia dianggap belum memenuhi harapan—yang pertama kali dituding adalah guru. Seolah kegagalan sistem adalah kegagalan individu pendidik.

Padahal pendidikan bukan hanya urusan guru. Ia adalah ekosistem. Ia adalah keputusan anggaran. Ia adalah keberanian politik untuk menempatkan pendidikan dan kesehatan sebagai prioritas utama, bukan sekadar pelengkap retorika.

Produksi Butuh Manusia Unggul

Ekonomi berbasis produksi menuntut tenaga kerja yang kompeten. Industri maju membutuhkan keterampilan. Teknologi berkembang memerlukan literasi digital. Semua itu berakar dari pendidikan yang berkualitas.

Sementara itu, kesehatan menentukan kualitas belajar. Anak yang kurang gizi sulit fokus. Remaja yang sering sakit tidak mampu menyerap pembelajaran maksimal. Masyarakat yang rentan kesehatan akan kesulitan produktif.

Maka jika pendidikan dan kesehatan dilemahkan, jangan heran jika produktivitas stagnan. Jangan heran jika ketergantungan pada impor meningkat. Jangan heran jika kesejahteraan sulit merata.

Kita tidak bisa membangun ekonomi kuat dengan manusia yang lemah.

Guru Bukan Kambing Hitam Sejarah

Sebagai guru, kami berada di garis depan pembentukan karakter dan kompetensi generasi. Di ruang kelas, kami mengajarkan kejujuran, kerja keras, berpikir kritis, dan tanggung jawab. Kami menanamkan harapan bahwa masa depan bisa lebih baik.

Namun guru bukan pembuat kebijakan anggaran. Guru bukan penentu prioritas fiskal. Guru bukan pemegang kendali arah pembangunan nasional.

Jika Generasi Emas 2045 benar-benar ingin diwujudkan, maka guru harus diperlakukan sebagai investasi strategis. Kesejahteraan guru bukanlah pemborosan. Ia adalah fondasi jangka panjang. Guru yang sejahtera dapat fokus mendidik. Guru yang dihargai akan bekerja dengan hati yang lebih tenang dan pikiran yang lebih jernih.

Bangsa yang besar selalu menghormati pendidiknya. Bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kebijakan nyata.

Kesadaran Politik dan Tanggung Jawab Rakyat

Pada akhirnya, arah bangsa ditentukan oleh pilihan politik. Kebijakan anggaran pendidikan dan kesehatan bukan turun dari langit. Ia lahir dari keputusan para pemimpin yang dipilih melalui pemilu.

Pemilu bukan sekadar seremoni lima tahunan. Ia adalah momentum menentukan prioritas pembangunan. Apakah pendidikan akan diperkuat atau dikurangi? Apakah kesehatan akan dijaga atau diabaikan? Apakah ekonomi akan ditumbuhkan melalui produksi atau sekadar konsumsi?

Jika pilihan didasarkan pada uang sesaat, maka konsekuensinya akan dirasakan bertahun-tahun. Politik uang tidak pernah gratis. Ia dibayar dengan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.

Maka kesadaran rakyat menjadi kunci. Suara bukan komoditas. Suara adalah amanah sejarah. Masa depan anak-anak kita bergantung pada keputusan hari ini.

Doa dan Harapan untuk Negeri

Kita semua tentu mencintai Indonesia. Kita ingin melihat merah putih tetap berkibar dengan gagah. Kita ingin melihat anak-anak tumbuh cerdas, sehat, dan berakhlak. Kita ingin Generasi Emas 2045 benar-benar menjadi kenyataan, bukan sekadar slogan.

Mari kita tutup dengan doa dan harapan:

Ya Allah, Tuhan Yang Maha Esa,
Lindungi negeri ini dari kebijakan yang merugikan masa depannya.
Kuatkan para guru agar tetap ikhlas dan teguh dalam mendidik.
Sehatkan generasi muda kami, cerdaskan akalnya, dan lembutkan hatinya.
Anugerahkan kepada bangsa ini pemimpin yang jujur, amanah, dan benar-benar berpihak kepada rakyat.
Tumbuhkan kesadaran dalam diri kami semua bahwa pemilu adalah penentu arah bangsa, bukan sekadar ajang menerima amplop sesaat.

Semoga Indonesia berdiri di atas fondasi yang kokoh: pendidikan yang bermutu, kesehatan yang merata, dan ekonomi yang bertumpu pada produksi serta keadilan. Semoga Generasi Emas 2045 benar-benar terwujud. Dan semoga negeri ini terus berkibar dengan martabat dan keberkahan.

Share:

5 Menit di Bilik Suara, Penentu 5 Tahun Masa Depan Bangsa

Pemilu di Indonesia selalu datang dengan gegap gempita. Spanduk di mana-mana, baliho berlapis janji, panggung kampanye penuh sorak, dan amplop-amplop kecil yang diam-diam berpindah tangan. Lima menit di bilik suara seharusnya menjadi momen paling sakral dalam demokrasi. Namun, justru di situlah kita sering kehilangan maknanya.

Kita sering lupa: lima menit itu menentukan lima tahun arah bangsa. Menentukan siapa yang mengatur anggaran, menentukan prioritas kebijakan, menentukan siapa yang didengar dan siapa yang dikesampingkan.

Sayangnya, lima menit itu kerap dibeli dengan uang.

Demokrasi yang Mahal, Rakyat yang Murah

Biaya pemilu langsung di Indonesia sangatlah besar. Untuk menjadi presiden, ongkos politiknya bukan lagi soal kemampuan atau gagasan, melainkan soal modal yang fantastis dan sering kali tidak masuk akal. Tidak semua biaya itu tercatat rapi di laporan resmi. Banyak yang beredar di bawah meja, dalam bentuk “uang transport”, “tanda terima kasih”, atau sekadar “bantuan menjelang pemilu”.

Di sisi lain, rakyat—yang seharusnya menjadi pemilik kedaulatan—justru diposisikan murah. Tidak perlu banyak. Seratus ribu rupiah per orang sering kali cukup. Bahkan kurang dari itu. Amplop kecil bisa mengalahkan visi besar. Uang tunai mengalahkan nalar panjang.

Mungkin jika dilihat per orang, jumlah itu terasa sepele. Tapi ketika dikalikan dengan jutaan pemilih, nilainya membengkak menjadi gunung biaya politik. Dan gunung itu tidak mungkin tidak ditagih kembali.

Memilih Bukan dengan Hati, Tapi dengan Amplop

Masalahnya bukan semata pada calon, tapi juga pada kebiasaan kita sebagai masyarakat. Banyak pemilih tidak benar-benar memilih. Mereka “menukar” suara. Tidak ada dialog tentang visi, tidak ada diskusi tentang masa depan, tidak ada pertimbangan tentang rekam jejak.

Yang penting: siapa yang memberi, itulah yang dipilih.

Rakyat lupa bahwa yang mereka pilih bukan ketua RT. Yang dipilih adalah presiden, penentu kebijakan nasional lima tahun ke depan. Satu keputusan presiden bisa berdampak pada pendidikan, kesehatan, lapangan kerja, hingga harga kebutuhan pokok.

Namun lima menit di bilik suara sering diperlakukan seperti transaksi harian.

Ketika Pemimpin Terpilih, Rakyat Menanggung Biayanya

Presiden Prabowo terpilih melalui mekanisme demokrasi. Secara prosedural sah. Namun secara reflektif, banyak rakyat merasa ada yang kosong. Bukan karena pilihan politik semata, tetapi karena proses memilihnya tidak lahir dari kesadaran kolektif yang utuh.

Kebijakan-kebijakan ambisius kemudian bermunculan. Program-program besar diluncurkan dengan narasi keistimewaan: MBG, KDMP, hingga keterlibatan dalam berbagai skema pendanaan seperti BOP. Ambisi negara besar digaungkan, namun di akar rumput, masalah lama belum selesai.

  • Kemiskinan masih nyata.
  • Pengangguran masih tinggi.
  • Mencari kerja makin sulit.
  • Biaya pendidikan, terutama pendidikan tinggi, terus meroket.
  • Akses kesehatan masih timpang.

Ironisnya, demi menjalankan program-program ambisius tersebut, alokasi anggaran pendidikan dan kesehatan justru dipotong. Dua sektor yang seharusnya menjadi fondasi masa depan bangsa malah dikorbankan.

Di titik ini, rakyat mulai bertanya: untuk siapa negara bekerja?

Ketika Kekuasaan Lebih Setia pada Program, Bukan pada Rakyat

Seorang presiden tentu berhak memiliki visi. Ambisi bukan hal yang salah. Tetapi ambisi yang tidak berangkat dari kebutuhan riil rakyat akan berubah menjadi proyek elit. Kebijakan yang tidak menyentuh langsung problem masyarakat hanya akan terasa megah di laporan, tetapi hampa di kehidupan nyata.

Lebih menyakitkan lagi ketika kritik rakyat dianggap gangguan. Seolah setelah terpilih, suara rakyat kembali menjadi sunyi—padahal sebelumnya begitu diburu.

Di sinilah kita harus jujur bercermin. Pemimpin yang tidak berpihak sering kali lahir dari proses memilih yang juga tidak berpihak pada nurani.

Belajar Bertanggung Jawab atas Pilihan

Refleksi ini bukan semata menyalahkan presiden. Ini juga tentang kita. Tentang masyarakat yang membiarkan suaranya dibeli. Tentang kita yang rela menukar masa depan dengan uang sesaat. Tentang lima menit di bilik suara yang kita anggap remeh.

Demokrasi tidak akan pernah benar-benar berpihak pada rakyat jika rakyat sendiri tidak memperlakukannya dengan hati.

Mungkin kita tidak bisa mengubah hasil pemilu yang sudah terjadi. Tapi kita masih bisa mengubah cara kita memaknai pemilu yang akan datang.

Mulai dari hal sederhana:

  • Berani menolak politik uang

  • Mau membaca visi dan misi

  • Bertanya, bukan hanya menerima

  • Memilih dengan akal sehat dan hati nurani

Karena lima menit di bilik suara bukan sekadar mencoblos. Ia adalah kontrak moral lima tahun ke depan.

Dan bangsa ini terlalu besar, terlalu berharga, untuk terus-menerus digadaikan dengan amplop kecil.

Share:

JURNAL DWI MINGGUAN MODUL 2.3 : COACHING UNTUK SUPERVISI AKADEMIK

Jurnal Dwi Mingguan untuk Modul 2.3 Coaching untuk Supervisi Akademik kali ini saya menggunakan model 4C (Connection, Challenge, Concept, dan Change). Berikut uraian dari Model 4C pada Jurnal Dwi Mingguan Modul 2.3


Connection (Keterkaitan materi yang didapat dengan peran saya sebagai CGP)

Materi yang benar-benar baru dan luar biasa bagi guru junior seperti saya. Saya pikir, supervisi akademik hanya akan saya peroleh ketika suatu saat saya menjadi seorang pemimpin dalam sebuah lembaga pendidikan. Saya pikir supervisi akademik adalah sebuah kegiatan penilaian yang terlihat sangat menakutkan bagi guru yang akan disupervisi, dan supervisor adalah seorang tim penilaian yang patut diwaspadai, ditakuti atas penilaian, dan tanggapannya atau kritikannya terhadap kinerja guru selama ini. Itulah anggapan dan pemikiran saya sebelum mendapat kesempatan belajar materi ini.

Tapi saat ini, ketika mendapat kesempatan belajar apalagi berdiskusi dengan fasilitator, Pengajar Praktik, instruktur, bahkan dengan rekan-rekan guru sesama Calon Guru Penggerak (CGP) Angkatan 5 Kab. Lamongan tentang “supervisi akademik dengan model coaching”, ternyata tidak harus menunggu menjadi seorang pemimpin sebuah lembaga pendidikan untuk belajar apa itu supervisi akademik, saat inipun saya bisa mendapatkan kesempatan memperoleh pengetahuan tersebut. Pengetahuan tentang supervisi akademik, tujuan dari supervisi akademik, bagaimana strategi yang dilakukan dalam supervisi agar supervisi tidak menjadi suatu peristiwa yang menakutkan bagi sebagian guru dan bagaimana refleksi setelah dilakukan supervisi akademik. Melalui proses coaching untuk supervisi akademik yang saya pelajari dalam modul ini, membukan mata saya lebar-lebar, bahwa supervisi adalah hal yang menarik, hal yang menyenangkan, dan dapat dijadikan sebagai kiblat bagi saya sebagai guru dan mungkin bagi guru-guru lain, untuk memastikan pembelajaran yang telah dilakukan selama ini sudah berpihak pada murid atau tidak, sebagai tolak ukur bagi kita untuk meningkatkan kompetensi sebagai guru, baik komptensi kepribadian, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, maupun kompetensi profesional. 

Menyimak tentang materi coaching untuk supervisi akademik, adakah keterkaitan dengan peran saya sebagai CGP? Tentu keterkaitannya sangat erat sekali. Sebagai seorang guru, saya berperan menuntun murid-murid saya sesuai kodratnya, sebagaimana pemikiran Ki Hadjar Dewantara. Terkadang berperan sebagai coach bagi mereka, bahkan mungkin tanpa saya sadari sebagai coach bagi rekan-rekan guru lain. dan proses coaching manjadikan aktifitas saya, dalam menuntun murid-murid saya, dalam suasana pembelajaran ataupun suasana kolaborasi bersama teman sejawat menjadi lebih fleksibel, akrab, dan bermakna.

Challenge (Adakah ide, materi, atau pendapat dari narasumber yang berbeda dari praktik yang saya jalankan selama ini?)

Apa itu proses coaching? Berdasarkan definisi dari beberapa ahli, dapat disimpulkan, coaching adalah sebuah proses kolaborasi yang berbentuk kemitraan bersama klien (coachee atau orang yang akan kita bantu) untuk memaksimalkan potensi atau kinerjanya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif. Dari proses coaching itu, coachee akan menemukan sendiri jalan untuk memaksimalkan potensi atau kinerjanya. Bagaimana prosesnya sehingga coache mampu menemukan sendiri jalan untuk memaksimalkan potensinya?

Berdasarkan paparan meteri yang saya dapatkan dari Program Guru Penggerak ini, coaching memiliki tujuan dan prinsip lebih kearah memberdayakan, lebih kepada membantu seseorang untuk belajar dari pada mengajarinya, itulah kenapa coaching berbeda dengan bentuk-bentuk pengembangan diri yang lain seperti mentor, konseling, fasilitasi, atau training. Contoh, dalam mentoring, mentor membagikan pengetahuan, keterampilan, dan pengalamannya untuk membantu mentee mengembangkan dirinya, sedangkan dalam coaching, coach menuntun cochee, menemukan ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi atau mencapai tujuan yang dikehendaki. Perhatikan kata membagikan dalam mentor, dan kata menuntun dalam coach. Artinya coach sekalipun membantu, tapi sifatnya menuntun seseorang melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif sehingga dia menemukan sendiri apa yang harus dilakukannya untuk bangkit dan berjalan menuju perubahan yang dia inginkan. Dan proses coaching sangat sesuai dengan salah satu tujuan pengembangan diri, yaitu agar guru menjadi otonom yang berarti dapat mengarahkan, mengatur, mengawasi, dan memodifikasi diri secara mandiri. Untuk membantu orang lain menjadi, coachee, atau rekan guru untuk mengembangkan kompetensinyanya dan menjadi otonom, maka kita perlu memiliki paradgima berpikir coaching terlebih dahulu. Paradigma tersebut adalah :

Fokus pada coache/rekan yang akan dikembangkan

Bersikap terbuka dan ingin tahu

Memiliki kesadaran diri yang kuat

Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Saat fokus pada coachee, kita sebagai coach, fokus pada topik yang dibawakan, apa yang perlu dilakukan atau dikuasai untuk mencapai tujuan tersebut, sehingga melalui percakapan kreatif dan bermakna dapat membawa kemajuan pada mereka. Seorang coach juga harus bersikap terbuka berusaha tidak menghakimi, melabel, berasumsi, atau menganalisis pemikiran orang lain. Tetap menunjukkan rasa ingin tahu yang besar terhadap keinginan dan ide-ide dari coachee. Dalam proses coaching itu, agar coach mampu menangkap perubahan yang terjadi selama emosi yang timbul  dan mempengaruhi percakapan, maka coach perlu memiliki kesadaran diri yang kuat. Dan yang terpenting dalam coaching ini adalah, bagaimana seorang coach mampu melihat peluang baru dan masa depan karena coach mendorong seseorang untuk fokus pada solusi.

Dari beberapa paradigma diatas, ternyata berbeda dengan paradigma  dan perilaku saya sebagai guru selama ini. Jika dikaitkan dengan hasil proses pembelajaran yang kurang maksimal, bisa dikatakan saya sebagai guru kurang fokus. Baik terhadap kebutuhan belajar murid-murid saya maupun terhadap strategi pembelajaran yang saya lakukan. Kesibukan-kesibukan yang sering menyita waktu saya, adalah salah satu faktor saya selama ini ternyata kurang bersikap terbuka terhadap murid. Terkadang memberi mereka label sesuai perilaku yang lebih mendominasi siswa-siswa saya, sering terbawa emosi saat berhadapan dengan perilaku murid yang kurang sesuai dengan tata tertib sekolah atau etika berprilaku, dan kurang menunjukkan rasa ingin tahu terhadap kebutuhan belajar, kebutuhan dasar, perkembangan, atau perubahan perilaku murid-murid saya. 

Concept ( Menceritakan konsep-konsep utama yang saya pelajari dan menurut saya penting untuk terus dibawa selama menjadi Calon Guru Penggerak atau bahkan setelah menjadi Guru Penggerak?)

Setelah membaca tentang konsep caoching secara singkat ternyata ditemukan beberap hal yang sangat meanrik untuk direnungkan dan dilaksanakan. Bukan karena ini adalah materi yang baru kita kenal, bukan pula karena coaching berbeda deng bentuk-bentuk  pengembangan diri lainnya, tapi karena dalam proses coaching, coach hanya menuntun, tidak adak paksaan, tidak pula mengajari, apalagi menggurui atau menyuruh. Tapi bagaimana coachee menemukan  sendiri solusi dan jalan menuju peningkatan kompetensi dirinya atau solusi dari keinginannya melalui proses menggali ide-ide kreatif dalam diri coachee. Dan yang sangat menarik dalam coaching adalah istilah kemitraan.

International Coaching Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai kemitraan dengan klien dalam suatu proses kreatif dan mengugah pikiran untuk mengisnpirasi klien agar dapat memaksimalkan potensi pribadi atau proffesional coachee. Prinsip coaching yang dikembangkan dari tiga kata/frasa kunci pada definisi coaching yaitu "kemitraan, proses kreatif, dan memaksimalkan potensi" dan ketiga frasa kunci ini penting untuk selalu kita bawa selama menjadi CGP bahkan selama kita berprofesi sebagai seorang guru atau saat memposisikan diri sebagai coach, sebagai agen atau pemimpin perubahan,  Jadi dengan ketiga frasa kunci itu, dapat dijadikan sebagai prinsip ketika melakukan coaching bahkan kolaborasi, interaksi, komunikasi baik dengan sesama rekan guru maupun murid dalam rangka memberdayakan orang yang sedang kita ajak berinteraksi dengan tujuan membantu orang lain mengembangkan dan meningkatkan kompetensinya menuju perubahan kearah yang lebih baik

Selain prinsip coaching, ada lagi hal penting yang perlu selalu kita bawa selama kita menjadi CGP dan menempatkan diri sebagai coach, yaitu kita perlu terus  meningkatkan 3 kompetensi inti coaching. Apa saja ketiga kompetensi inti itu? Yang pertama, kehadiran penuh atau kemampuan untuk hadir sepenuhnya (jiwa dan raga) saat berhadapan dengan coachee, sehingga  badan, hati, dan pikiran selaras saat melakukan percakapan dengan coachee. Yang kedua yaitu  mendengarkan aktif atau menyimak, dan yang terakhir yaitu kemampuan untuk mengajukan pertanyaan berbobot. Tujuannya adalah untuk menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulus pemikiran coachee, memunculkan hal-hal baru yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya dan yang dapat mengungkapkan coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan komptensinya. Dalam coaching, proses menuntun yang dilakukan coach salah satunya melalui sebuah percakapan bermakna. Untuk itu dibutuhkan kemampuan seorang coach.  Kemampuan untuk dapat menavigasi tujuan dan arah Percakapan yang dibutuhkan coachee dan kemampuan untuk menciptakan alur percakapan, sehingga proses percakapan coaching menjadi efektif dan bermakna. Dalam kemampuan menentukan tujuan dan arah percakapan, seorang coach harus bisa menentukan apakah percakapan untuk perencanaan, apakah untuk pemecahan masalah, apakah untuk berefleksi, ataukan percakapan untuk kalibrasi, atau bahkan dalam sebuah percakapan mencakup keempat tujuan percakapan tersebut. Dan terkait dengan kemampuan menciptakan alur percakapan yang efektif dan bermakna, maka dalam materi coaching yang saya pelajari yaitu alur TIRTA. 

TIRTA kepanjangan dari : T yaitu Tujuan. Artinya antara coach dan coachee perlu menentukan tujuan pembicaraan yang akan berlangsung dan idealnya tujuan ini datang dari coachee. Huruf yang kedua dari kata TIRTA yaitu I. I merupakan kepanjangan dari identifikasi. Artinya coach perlu melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta yang ada pada saat sesi percakapan. Misalnya coach bertanya kepada coachee "apa kekuatan Bapak/Ibu/saudara dalam mencapai tujuan tersebut?". Huruf ketiga dari kata TIRTA adalah R, yang merupakan kepanjangan dari Rencana aksi, artinya alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat. Misalnya "Apa ukuran keberhasilan rencana aksi Bapak/Ibu?". Dan huruf terakhir dari kata TIRTA adalah TA yaitu kepanjangan dari TAnggung jawab yang artinya bagaimana seorang coach mampu menuntun coachee membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya

Dari beberapa konsep-konsep utama tentang coaching, dapat disimpulkan bahwa dengan proses caoching terutama dalam supervisi akademik, akan membantu murid-murid kita atau rekan guru menemukan potensi dirinya, menuntun mereka menjadi lebih mampu mengembangkan dan meningkatkan komptensinya secara sadar, secara mandiri, dan penuh motivasi bukan karena paksaan atau sesuai suruhan atau perintah dari kita sebagai mitra yang membantunya mengembangkan diri.

Change (Apa perubahan dalam diri Anda yang ingin Anda lakukan setelah mendapatkan materi pada hari ini? )

Setelah mempelajari materi coaching ini, ternyata mampu meluruskan paradigma saya tentang bagaimana kita harusnya memandang dan memperlakukan murid dan orang lain saat kita memposisikan diri sebagai coach, bagaimana seharusnya menempatkan diri dalam proses menuntun murid atau membantu rekan-rekan kita atau orang lain. Dan lebih khusus lagi, bagaimana sebuah supervisi dapat berubah dari suasana menakutkan menjadi menyenangkan, dari sebuah penilaian kinerja menjadi sebuah sharing dan diskusi pengalaman dalam melakukan pembelajaran yang berpihak pada murid, dan pada akhirnya menjadi sebuah refleksi bermakna yang dapat dijadikan sebagai tolak ukur atau pijakan bagi guru dalam melakukan pengembangan kinerja.

Share:

PEMBELAJARAN KOMPETENSI SOSIAL DAN EMOSIONAL (KSE) -- KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 2.2

Pembelajaran Sosial Emosional adalah proses belajar seumur hidup untuk lebih memahami diri kita sendiri, terhubung dengan orang lain, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan dan mendukung komunitas. Pembelajaran sosial dan emosional akan lebih berhasil bila dilaksanakan secara kolaboratif oleh semua pemangku kepentingan sekolah.


Tujuan Pembelajaran Kompetensi Sosial Emosional (KSE) adalah:

  1. Memberikan pemahaman, penghayatan dan kemampuan untuk mengelola emosi. 
  2. Menetapkan dan mencapai tujuan positif. 
  3. Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain. 
  4. Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif. 
  5. Membuat keputusan yang bertanggung jawab.

Ruang Lingkup Pembelajaran Kompetensi Sosial Emosional (KSE) antara lain:

  • Rutin artinya diluar waktu belajar akademik, misalnya : kegiatan ekstrakurikuler, perayaan hari besar, pelatihan dsb. 
  • Terintegrasi dalam pembelajaran artinya membuat diskusi kasus atau kerja kelompok dalam sebuah topik mata pelajaran. 
  • Protokol/ Budaya Sekolah artinya aturan sekolah yang sudah menjadi kesepakatan bersama dan diterapkan secara mandiri oleh murid atau sebagai kebijakan sekolah untuk merespon situasi pada kejadian tertentu.

Dampak dari keberhasilan dalam penerapan KSE (Kompetensi Sosial Emosional) tersebut tidak hanya pada kesuksesan diri seseorang dalam akademik yang lebih baik namun juga memberikan fondasi yang kuat bagi seseorang untuk dapat sukses dalam berbagai area kehidupan mereka di luar akademik. Pembelajaran sosial emosional dapat dilatih dan ditumbuhkan di luar pembelajaran, terintegrasi dalam pembelajaran, menjadi budaya atau tata tertib sekolah dengan berbagai kompetensi dan teknik, sehingga dapat menciptakan Well Being Ekosistem Pendidikan yang nyaman dan sehat.

Keterkaitan materi pembelajaran sosial emosional dengan modul sebelumnya

Melalui pembelajaran Kompetensi Sosial Emosional (KSE), salah satu peran guru sebagai pendidik adalah menciptakan Ekosistem Pendidikan di sekolah sehingga kondisi menjadi aman, nyaman dan menyenangkan bagi murid. Hal ini sejalan dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara bahwa sekolah merupakan taman bagi murid, taman untuk mengembangkan bakat dan minat murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya.

Seorang guru penggerak yang memiliki nilai kemandirian, reflektif, kolaboratif, inovatif, serta berpihak pada murid harus menggunakan segala kekuatan dan potensi yang ada untuk membangun budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dikembangkan hendaknya dapat mendorong pemenuhan kebutuhan belajar murid sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman. Seorang guru harus mampu menggunakan segala daya dan potensi yang yang dimiliki untuk mengembangkan budaya positif di sekolah. Budaya positif yang dapat dilakukan di sekolah untuk menerapkan latihan Berkesadaran Penuh (mindfulness) sambil mengembangkan kompetensi Kesadaran Diri (Self Awareness) adalah dengan mengenali emosi. Hal ini dapat membantu guru dan murid merespon terhadap kondisinya sendiri.

Jika pembelajaran Kompetensi Sosial Emosional (KSE) dengan pendekatan berkesadaran penuh (mindfulness) menjadi budaya positif di sekolah maka pembelajaran berdiferensiasi lebih mudah diterapkan. Hal ini tentunya akan membahagiakan murid karena pembelajaran yang disajikan sesuai dengan kebutuhan belajar, baik melalui pendekatan kesiapan belajar, minat, dan profil murid.

Pendekatan kesadaran penuh (mindfulness) menggunakan teknik STOP dapat dijadikan sebagai metode yang dapat menciptakan ekosistem pendidikan yang baik. Murid yang memiliki Well Being yang optimal memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mencapai prestasi akademik yang tinggi, kesehatan fisik, dan mental yang lebih baik, memiliki ketangguhan dalam menghadapi stres dan terlibat aktif dalam perilaku sosial yang lebih bertanggung jawab. Dengan demikian, pembelajaran diferensiasi melalui pembelajaran Kompetensi Sosial dan Emosional (KSE) dapat membentuk murid yang memiliki profil pelajar Pancasila.


Share:

Blogroll

Popular Post

Followers

Blog Stats


AD (728x90)

Popular Posts

Labels Cloud

Recent Posts